Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan ekonom senior DR. Rizal Ramli mendengarkan penjelasan Yayat Yatmaka atas salah satu lukisan Che Guevara karyanya/RMOL

Pelukis realisme sosial Yayak Yatmaka kembali menggelar pameran lukisan tunggal. Kali ini pameran yang dibalut tema “Semua Orang Itu Guru” digelar di Galeri AJBS Creative World, Jalan Ratna No. 14 Ngagel, Surabaya.

Pameran dibuka ekonom senior dan mantan Menko Perekonomian Dr. Rizal Ramli, Minggu sore (8/3). Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga hadir dalam pembukaan pameran.

Yayak Yatmaka adalah sahabat lama Rizal Ramli. Dia punya beberapa nama panggilan. Dari Yayak Iskra, Yayak Kencrit, Yayak Yatmaka, juga Ismaya. Nama asli pria kelahiran Jogjakarta tahun 1956 ini adalah Bambang Adyatmaka. Seperti Rizal Ramli, Yayak juga pernah menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan sudah dikenal sebagai aktivis gerakan sosial sejak tahun 1978.

Yayak pernah melarikan diri dan tinggal di Jerman selama 20 tahun karena dikejar pemerintahan Orde Baru.

Indonesianis Benedict Anderson juga memuji daya tarung Yayak Yatmaka menghadapi rezim Orde Baru masa itu. Dalam sebuah catatan, Ben Anderson menilai Yayat Yatmaka layak disebut sebagai pelanjut dari  pelukis realisme sosial lainnya, Agustin Sibarani, yang salah satu karya monumentalnya adalah lukisan Sisingamangaraja XII yang pernah ada di uang pecahan Rp 1.000.

Dalam sambutan ketika membuka pameran lukisan tadi, menurut Rizal Ramli, sebagai pelukis realisme sosial Yayak berani memberikan warna yang jauh lebih hidup dibandingkan lukisan karya pelukis lain untuk genre itu.

“Yayak adalah pelukis realisme sosial. Seperti halnya almarhum Semsar Siahan, Diego Rivera, David Alfaro. Warna-warna lukisan Yayak jauh lebih hidup, lebih colourfull dari lukisan tradisional realisme sosial,” ujar Rizal Ramli, seperti dilansir Kantor Berita Politik RMOL.

Dia menambahkan, keberanian Yayak memvisualisasikan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, kemiskinan, korupsi, dan beragam bentuk ketidakadilan lainnya itulah yang pernah membuat Yayak harus berurusan dengan kekuasaan di era lalu.

Setelah zaman berganti, Yayak tak lantas berubah. Karya-karyanya tetap mengisyaratkan hal yang sama: ketidakadilan yang dialami rakyat kebanyakan.

“Lukisan Yayak kuat pesan realisme sosialnya, tapi dengan warna cerah, tetap memberi warna optimisme. Dengan karakter dan garis kuat, lukisan-lukisan Yayak adalah potret Indonesia dari masa ke masa,” kata Rizal Ramli lagi.

Dia menambahkan, kebanyakan pelukis, seperti Van Gogh, Hendra Gunawan, dan lain sebagainya mengalami kehidupan yang susah dalam kemiskinan. Baru setelah meninggal biasanya lukisan-lukisan mereka diakui dan sangat mahal.

“Mudah-mudahan nasib Yayak akan jauh lebih baik,” demikian Rizal Ramli.

Pameran lukisan karya Yayak Yatmaka akan berlangsung sampai hari Minggu, 22 Maret 2020.Pameran lukisan ini juga diisi berbagai kegiatan seperti workshop melukis dan cukil kayu, serta temu kerakyatan kolektif.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here