Foto/Prokopim Kubu Raya

Bupati Muda Mahendrawan mewisuda 220 lulusan Akademi Paradigta Kabupaten Kubu Raya Tahun Pendidikan 2019/2020 di Aula Kantor Bupati Kubu Raya, Kamis (12/3).

Wisudawati berasal dari 31 desa di enam kecamatan dengan beragam latar belakang. Mulai anggota PKK hingga ibu rumah tangga. Wisuda ditandai proses pengalungan Selepang Paradigta oleh Bupati Muda.

Setelah diwisuda, peserta akademi diserahkan kembali kepada keluarga, pemerintah desa, dan masyarakat secara umum usai menempuh masa belajar selama sepuluh bulan efektif.

Bupati Muda Mahendrawan menerangkan, Akademi Paradigta adalah sebuah pendidikan dan pelatihan terstruktur bagi kader Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) dan kader perempuan di wilayah perdesaan.

Tujuannya agar perempuan dapat terlibat aktif dalam proses pembangunan desa dan wilayahnya. Dirinya menilai banyak dampak positif pada pembangunan keluarga dan perempuan khususnya di desa-desa dari hasil pendidikan di Akademi Paradigta. Menurut dia, hal itu punya spirit yang sama dengan Kabupaten Kubu Raya yang juga terlahir dari perjuangan masyarakat di desa-desa.

“Pendidikan dan pelatihan bagi kader-kader perempuan adalah suatu kebutuhan dan cara untuk bisa mendarat langsung pada sasaran pembangunan. Sebab yang diurus pemerintah daerah adalah semua rumah tangga dan keluarga untuk mencapai tujuan hidup bahagia,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun sederhana, tujuan hidup bahagia harus diperjuangkan. Dan mewujudkan hal tersebut butuh kehadiran perempuan-perempuan yang inspiratif dan mampu menggerakkan. Terlebih di era sekarang di mana desa telah punya kewenangan sehingga menjadi peluang besar untuk adanya percepatan.

“Peran perempuan adalah energi yang menambah daya juang yang tinggi. Di mana memunculkan daya juang itu tidak bisa serta merta. Butuh proses dan menancapkan cara pandang dan keterlibatan semua pihak. Termasuk bagaimana desa bisa mempercepat pengurangan kemiskinan dan pemiskinan dengan cara mengepung kalau semuanya bisa solid,” tuturnya.

Bupati Muda berterima kasih kepada semua pihak atas rampungnya proses pendidikan dan pelatihan Akademi Paradigta tahun pendidikan 2019/2020.

Dirinya berharap kehadiran perempuan dengan karakter kepemimpinan yang kuat dapat semakin menggerakkan pembangunan di desa. Ia menyebut alumni Akademi Paradigta punya spontanitas dan respons yang cepat terhadap cepatnya problem yang datang.

“Kita ini serba menggerakkan. Program sebaik apapun konsepnya jika tanpa peta kerja yang kuat untuk menggerakkan, hasilnya tetap tidak akan bisa mengejar masalah. Nah, ke depan kita komitmen untuk bersama-sama memperkuat desa-desa,” tuturnya.

Direktur Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka), Nani Zulminarni, menyebut wisuda Akademi Paradigta di Kubu Raya sangat bersejarah bagi perjalanan Akademi secara nasional. Sebab untuk kali pertama pembiayaannya dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah kabupaten. Yakni membiayai para mentor dan pemerintah desa membiayai para peserta.

“Kabupaten Kubu Raya satu-satunya wilayah yang melakukan terobosan ini dari 87 kabupaten lain di 20 provinsi di mana Pekka bekerja,” ungkapnya.

Nani menilai hal itu menjadi bukti komitmen yang kuat dari bupati, pemerintah kabupaten, dan pemerintah desa di Kubu Raya. Khususnya untuk mendukung agenda dunia dan negara dalam meningkatkan kepemimpinan perempuan untuk kesetaraan dan keadilan sosial.

“Dukungan penuh ini juga memperlihatkan kesadaran diri dan pemahaman yang baik dari Pemerintah Kabupaten Kubu Raya akan pentingnya kontribusi perempuan untuk mengakhiri kemiskinan, mengatasi kesenjangan, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan, Akademi Paradigta di Kabupaten Kubu Raya dikembangkan sejak tahun 2016 sebagai bagian dari pilot program tingkat nasional yang dikembangkan di sepuluh provinsi lainnya di Indonesia. Program ini didukung kerja sama pemerintah Indonesia, pemerintah Australia, dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

“Program ini dikembangkan dalam rangka memperkuat kepemimpinan perempuan desa untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan undang-undang desa,” terangnya.

Melalui pilot program pada tahun 2016-2018, Kabupaten Kubu Raya telah melatih 395 orang perempuan pemimpin yang berasal lebih dari 50 desa. Pada periode tahun 2018-2019, Akademi Paradigta di wilayah dilanjutkan dan dikembangkan dengan dukungan sebagian pembiayaan oleh pemerintah kabupaten dan pemerintah desa, dengan telah meluluskan 331 perempuan lagi dari 42 desa di enam kecamatan di Kubu Raya.

“Untuk tahun pendidikan akademi di tahun 2019/2020, ada 220 perempuan dari 31 desa di enam kecamatan telah menyelesaikan proses pendidikannya. Mereka merupakan anggota PKK, mahasiswa, kader-kader desa, kelompok kepentingan, pengelola BUMDes, anggota BPD, guru, dan ibu rumah tangga,” papar Nani.

Menurut pemantauan pihaknya, dari sekian banyak alumni Akademi Paradigta di Kubu Raya, sekitar separuhnya cukup aktif di desa melakukan berbagai peran. Adapun separuhnya kurang aktif dengan berbagai alasan dan kondisi yang dihadapi.

“Ini menyebabkan kekecewaan pada beberapa pemerintah desa sehingga berkeberatan untuk melanjutkan dukungannya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, proses di Akademi Paradigta adalah langkah awal dan jendela pembuka bagi perempuan, keluarga, dan masyarakat. Khususnya untuk memahami pentingnya partisipasi perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Keaktifan perempuan di desa juga dipengaruhi bagaimana dukungan pemerintah desa dan masyarakat dalam menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi perempuan untuk berkarya. Berbagai inisiatif dan tantangan harusnya diberikan dengan dukungan bagi mereka untuk meresponsnya dengan maksimal. Bukan menarik dukungan yang telah diberikan,” jelasnya.

Ia meyakini tidak ada yang sia-sia dalam pengalokasian anggaran bagi pendidikan perempuan di desa. Kendati setelah lulus mereka belum dapat aktif.

“Sebagai warga negara dan warga desa, perempuan berhak mendapatkan manfaat dari desa dan dana pembangunan lainnya,” katanya.

Lebih jauh Nani mengajak pemerintah desa di Kabupaten Kubu Raya untuk melanjutkan dukungan pada perempuan untuk belajar. Baik melalui Akademi Paradigta maupun sarana lainnya.

“Pemerintah kabupaten telah sepenuhnya mendukung hal ini dan tentunya pemerintah desa diharapkan mengikuti jejaknya,” harapnya.

Perwakilan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Ivan Syahri Rangkuti, berharap para alumnus Akademi Paradigta dapat ikut memperkuat tata kelola desa. Sehingga pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa dapat terwujud secara cepat dan transparan.

“Apa yang sudah diperoleh melalui pendidikan yang difasilitasi Pekka dan pemerintah daerah harus dapat diaktualisasikan di masyarakat khususnya masyarakat desa,” pesannya.

Peserta Akademi Paradigta dari Desa Punggur Besar Kecamatan Sungai Kakap, Sri Wahyuni, mengaku gembira mengikuti pendidikan di Akademi. Sebab banyak pengetahuan yang didapat termasuk pengetahuan tentang peraturan desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, dan profil desa yang dulu tidak diketahuinya.

“Dulu ngomong saja saya tidak mau. Tak pernah saya bicara dengan staf desa apalagi kepala desa karena merasa takut salah bicara dan malu. Kalau sekarang sudah saya percaya diri,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here