Jaya Suprana/Ist

Amerika Serikat didirikan oleh kaum pendatang yang datang dari Eropa akibat tekanan diskriminasi agama di Benua Eropa. Kemudian para pendatang menggusur masyarakat pribumi yang telah jauh lebih dahulu bermukim di daratan Amerika.

Karena para pendiri Amerika Serikat berjuang melawan kolonialisme yang dilakukan oleh Kerajaan Inggris maka mereka tidak mau mengakui apa yang mereka lakukan terhadap kaum pribumi Amerika (yang keliru disebut Indian gegara Columbus keliru menduga armadanya mendarat di India) sebagai kolonialisme. Agar jangan sampai terpercik muka sendiri akibat menepuk air di dulang.

Polisi Dunia

Dengan alasan Lebensraum alias serakah wilayah kekuasaan lebih luas, maka pada tanggal 1 September 1939 TNJ (Tentara Nasional Jerman) di bawah pimpinan Der Fuehrer Adolf Hitler memulai Bltizkrieg dengan menduduki Polandia yang kemudian meledak menjadi Perang Dunia II.
Menyimak kolonialisme merusak citra Jerman sehingga akhirnya kalah perang, Amerika Serikat cukup cerdik untuk melakukan kolonialisme sedemikian rupa sehingga diharapkan tidak ketahuan bahwa yang dilakukan adalah kolonialisme. Amerika Serikat melancarkan politik luar negeri dengan alasan berperan sebagai polisi dunia demi menjajah Filipina, Jerman, Jepang, Korea, Vietnam, Irak, Libya dan lain-lain lokasi di mana USA punya kepentingan UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Kolonialisme diwujudkan secara terselubung agar tidak terlalu tampak mencolok sebagai kolonialisme beneran.

Deal Of The Century

Pada akhir bulan Januari 2020, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memaklumatkan apa yang disebutnya sebagai Middle East Peace Plan sekaligus juga Deal of The Century yang ditunggu oleh seluruh dunia terutama bangsa Palestina dengan debaran hati penuh harapan positif.

Namun ternyata Donald Trump malah memantapkan deklarasi bahwa Jerusalem (termasuk bagian Kota Tuanya) adalah Ibukota resmi Israel sambil mempersilakan (maaf, saya sengaja copas pemberitaan dalam bahasa Inggris oleh New York Times 1 Februari 2020 agar tidak keliru menerjemahkannya) Israel to annex all settlements, as well as Jordan Valley –which makes up nearly fourth of the West Bank– creating a discontiguous Palestinian archipelago state, surrounded by a sea of Israel territory.

Menakjubkan, seorang presiden Amerika Serikat dari Washington D.C. nun jauh di seberang Samudra Atlantik melintasi Benua Eropa menetapkan sebuah kota nun jauh di Jerusalem untuk menjadi Ibukota sebuah negara nun jauh di tanah Palestina.

Kolonialisme Terselubung

Apa yang dilakukan Donald Trump terhadap Palestina tidak jauh beda dari apa yang dilakukan kerajaan Belanda dan kekaisaran Jepang terhadap Hindia-Belanda sebelum Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Meski tidak akan diakui oleh Donald Trump, naga-naganya Israel de facto sudah menjadi negara bagian The United States of America. Negara-bagian terbaru Amerika Serikat di bawah pimpinan Benjamin Netanyahu sebagai Gubernur eh maaf Perdana Menteri Israel secara khusus ditugaskan untuk menjajah Palestina.

Pada hakikatnya, secara sistematis, terstruktur dan masif memang jurus kolonialisme terselubung sedang asyik-masyik diejawantahkan oleh Amerika Serikat demi menindas negara, bangsa dan rakyat Palestina.

Jaya Suprana
Penulis adalah pembelajar geopolitik di planet bumi masa kini

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here