Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif'an/RMOL

Pandemik Coronavirus Disease (Covid-19) telah memporak porandakan berbagai bidang baik di dunia maupun di Indonesia.

Dampak pandemik Covid-19 itu di antaranya ambruknya ekonomi Indonesia, penundaan penyelenggaraan Pilkada dan tertundanya berbagai program pembangunan negara.

Saat negara sedang melawan pandemik Covid-19 muncul pertanyaan besar terkait dengan keterlibatan kalangan milenial dalam mengambil peran dalam mengatasi musibah yang sudah mengakibatkan kematian hampir 400 orang warga Indonesia itu.

Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL melontarkan kritik keras terhadap kalangan milenial yang suaranya nyaring saat momentum Pilpres.

Menurutnya, dalam mengatasi masalah Covid-19 pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, butuh kesadaran kolektif untuk berhasil lepas dari badai wabah ini. Salah satunya adalah keterlibatan kelompok milenial yang memiliki populasi yang sangat besar.

“Harus ada kesadaran kolektif, kalau soal begini (wabah Covid-19) kok pemerintah terkesan sendiri. Kalangan milenial suaranya tidak nyaring terdengar. Kalau di isu politik suaranya nyaring, di isu Covid-19 suaranya kok tenggelam?” tanya Ali Rif’an dengan ekspresi heran, Senin malam (13/4).

Sebagai kalangan yang melek informasi, Ali menyayangkan peran kalangan milenial tidak nampak. Gerakan dalam upaya mencari jalan keluar memerangi wabah virus asal Kota Wuhan, Provinsi Hubei China ini juga tidak terlalu terlihat.

Data yang Ali Rif’an miliki, peran milenial saat Pilpres 2019 kemarin sangatlah signifikan, mulai perang tagar soal Pilpres hingga tembus jutaan cuitan di linimasa Twitter. Sedangkan di tengah pandemik global ini, peran kalangan milenial dalam mengkampanyekan upaya penanggulangan Covid-19 ini tidak seserius Pilpres.

“Dilihat dari tagar soal isu Pilpres, tagar soal 2019 ganti presiden, 2019 tetep Jokowi cuitan bisa tembus jutaan, sementara cuitan di rumah saja hanya puluhan ribu, riuh rendah dan hingar bingar peran milenial di isu covid-19 ini sangat kurang sekali,” demikian papar eks Manajer Riset Poltracking ini.

Terkait kondisi kalangan milenial di tengah pandemik ini, Ali mengatakan seharusnya para pemuda selalu identik dengan idealismenya.

Pria lulusan Magister Politik Universitas Indonesia ini mengutip pernyataan Tan Malaka bahwa “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”.

“Mereka (kalangan milenial) bisa mengkampanyekan social distancing, physical distancing dan kebijakan PSBB. Milenial harus bergerak membantu pemerintah, ini kan isu krusial urusan kemanusiaan kok kalah sama isu politik,” demikian kata Ali kembali menunjukkan keheranannya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here