Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan/Prokopim

Pemerintah Kabupaten Kubu Raya mengambil sikap moderat menyikapi diskursus yang ada di masyarakat, yakni terkait pelaksanaan perayaan Idul Fitri termasuk takbiran dan shalat Ied.

Bupati Muda Mahendrawan berharap masyarakat mau mengikuti instruksi dari pemerintah pusat untuk melaksanakan shalat Ied di rumah dan takbiran di masjid atau musholla dengan pengeras suara. Alih-alih dengan berkeliling.

Hal itu mengingat pandemi Covid-19 di Kalimantan Barat yang belum menunjukkan tren penurunan. Namun Ia menyebut ada sebuah tradisi dan kultur sosial di masyarakat yang juga perlu disikapi dengan bijak. Karena itu, pemerintah Kabupaten akan melakukan pengaturan-pengaturan sehingga dampak negatif yang dikhawatirkan dapat dicegah. 

“Selain sholat Ied, yang tidak kalah penting adalah malam takbiran. Kita upayakan itu tidak berlangsung terlalu lama. Karena secara empiris rata-rata yang berbahaya itu kan bersama-sama dalam waktu yang panjang. Yang penting wajib mengikuti protokol kesehatan seperti memakai masker,” ujarnya seusai mengikuti konferensi video penanganan Covid-19 bersama Kapolda Kalimantan Barat di Aula Mapolresta Pontianak Kota, Rabu (20/5). 

Terkait pelaksanaan sholat Ied, jika masyarakat tetap melaksanakan, maka ada beberapa pengaturan yang wajib diikuti. Di antaranya khotbah yang dipersingkat dan protokol kesehatan standard yang wajib diikuti. Seperti pemakaian masker oleh setiap jemaah tanpa terkecuali.

Muda menyatakan takbiran maupun sholat Idul Fitri boleh asalkan ketentuan-ketentuan tersebut dilaksanakan. 

“Ya, ini karena memang secara tradisi dan sosial sudah menjadi realita. Tapi yang terpenting adalah kita berupaya membuat pengaturan-pengaturan termasuk yang juga sudah dilakukan oleh kepolisian selama ini seperti pemberlakuan jam malam. Sehingga tidak terjadi penumpukan masyarakat dalam waktu yang panjang. Kita minta camat dan desa untuk ikut mengawal di wilayahnya masing-masing,” terangnya. 

Muda menegaskan, harapan idealnya adalah masyarakat mengikuti arahan dari pemerintah pusat. Yakni melaksanakan sholat Ied di rumah dan takbiran hanya dari masjid atau musholla. Namun jika kedua hal tersebut tetap dilakukan, maka masyarakat harus melengkapi diri dengan alat perlindungan diri yang memadai dan mengikuti protokol kesehatan.

Foto/Prokopim

Terkait hal itu, dirinya meminta pengurus masjid maupun panitia sholat Ied untuk memastikan bahwa setiap jemaah mengenakan masker. 

“Artinya keinginan tertinggi kita adalah (sholat Ied di luar) tidak dilakukan. Tapi kalaupun dilakukan, APD-nya masyarakat harus selalu ada dan disiapkan. Makanya kepada pengurus masjid harus siapkan masker sehingga dapat mengantisipasi jemaah yang tidak memakai masker. Itu harus dipakai dan disiapkan serta dipastikan tidak ada yang tidak memakainya,” tuturnya. 

Ia menambahkan, panitia sholat Ied juga perlu menyampaikan kepada jemaah untuk membersihkan diri sepulang dari melaksanakan shalat Ied. Hal itu demi meminimalkan risiko penularan kepada anggota keluarga di rumah.

“Sepulang sholat harus langsung mandi dan berganti pakaian supaya menghilangkan risiko. Hal-hal ini sepertinya sepele tapi harus diingatkan,” imbuhnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here