From Lancok With Love

From Lancok With Love

SEORANG pengungsi Suriah yang sedang duduk di tepi Pantai Mediterania di Turki menulis surat kepada anak kecilnya yang sedang tidur.


Marwan sayangku, kutatap lekuk wajahmu
di bawah rembulan yang hampir penuh,
Anakku, bulu matamu seindah kaligrafi
terbalut dalam ridur yang nyenyak
Dan kubisikkan kepadamu, “Genggam erat tanganku. Tak akan ada hal buruk yang terjadi“.

Cuplikan cerita itu ditulis dalam novel terpendek di dunia-Sea Prayer- diterbitkan oleh Penguin Pers 2018 -edisi Indonesia Penerbit Mizan. Dengan hanya 48 halaman, novel ini hanya butuh waktu baca sekitar 10 menit, perpaduan antara beberapa cerita dengan ilustrasi perjalanan pengungsi Suriah yang merasuk sukma.

Buku ini ditulis oleh Khaled Husaini- penulis novel, dokter, dan mantan pengungsi Afghanistan dan Dan Williams, seorang illustrator ternama yang karyanya dimuat di majalah dan koran terkenal seperti National Geography, Rolling Stones, dan Wall Street Journal.

Marwan yang ditulis itu kini ada di Lancok, Syamtalira Bayu, walaupun kita tidak tahu pasti apakah kedua orang tuanya masih hidup atau sudah tiada, seluruh cukilan cerita dalam novel dapat kita adaptasi dengan situasi di propinsi Rakhine Myanmar.

Gantikan kota Homs Syiria dengan kota Mark U, kota tua Arakan yang kini sedang sengasara, gantikan gemersik pohon zaitun dengan tiupan angin semilir senja sawah yang menguning di salah satu pojok propinsi Rakhine Myanmar, dan gantikan denting panci-panci masak Suriah, dengan belanga tanah Rakhine dan kayu api, dan jadilah cerita Suriah itu menjadi cerita Rohingya.

Khaled Husaini menulis novel itu terinspirasi dari kematian seorang anak kecil, Alan Kurdi, 3 tahun, anak pengungsi Syiria yang gagal menyeberang ke Eropah- mungkin bersama orang tuanya dan mayatnya mengapung di tapi laut Turki. Mungkin karena latar itulah yang membuat Khaled menulis kalimat “ genggam erat tanganku, tak akan ada hal buruk terjadi”.

Tetapi hal buruk itu terjadi, dan antara tahun 2014-2020 , kematian pengungsi akibat tenggelam di laut mencapai lebih 20,000 orang (Statista, Februari 2020).

Bahkan menurut koran Inggris the Guardian, pada tahun 2018 kalau di tambah dengan kematian di darat seperti di kamp penahan, kamp pengungsi, orang sakit, dan lain-lain cukup banyak korban. Jumlah pengungsi yang mati yang melewati laut Mediterania, ataupun lewat jalan darat Eropah Selatan mencapai lebih dari 34,000 jiwa.

Kejadian di Lancok, Syamtalira Bayu, adalah kejadian yang sangat unik dan menyentuh hati. Sekelompok nelayan dan masyarakat lokal memutuskan untuk mendaratkan pengungsi Rohingya yang berada dalam keadaan tak menentu di lepas pantai Selat Malaka atas inisiatif mereka sendiri. Kebijakan negara yang berawal dari Departemen Luar Negeri di Pejambon Jakarta, dan turun sampai ke kantor Bupati Aceh Utara, tidak digubris oleh nelayan.

Setelah mencoba meyakinkan aparat pemerintah yang menunjukkan sikap enggan, bahkan melarang Rohingya mendarat, masyarakat kemudian memutuskan untuk menjemput mereka ke darat. Mereka mempersiapkan kebutuhan pengungsi semampu mereka. Dan, akhirnya pemerintah berkesimpulan akan menerima pengungsi Rohingya di Aceh.

Apa yang membuat masyarakat Pasai menerima pengungsi Rohingya dan bahkan berani berseberangan dengan negara? Jawabannya sangat sederhana. Para nelayan dan masyarakat Lancok menggunakan hati dan akal sehat, menggunakan tidak hanya kepala, tetapi juga nurani.

Pikiran mereka sangat sederhana, membiarkan pengungsi lelaki, wanita, dan cukup banyak anak-anak dalam laut Selat Malaka, apalagi dengan kondis kapal rusak, telah ditolak masuk ke Malaysia, tidak hanya salah, tetapi sebuah kekejaman, dosa besar, dan bahkan sebuah pengkhianatan terhadap manusia dan kemanusiaan.

Berbeda dengan negara-Malaysia, Indonesia, dan mungkin seluruh negara ASEAN yang menghitung laba rugi, menghitung prinsip non intervensi domestik negara anggota, tidak menggunakan istilah Rohingya, nelayan dan masyarakat Lancok tidak peduli dengan itu.

Bagi mereka yang ada hanya satu, ”nyawa manusia” dan hanya sebuah tindakan sederhana, “bawa mereka ke darat.” Mereka semua terikat dengan sebuah doktrin Panglima Laot Aceh, “untuk manusia Aceh yang bernama “agam” semuanya selesaikan di darat, bahkan untuk sebuah perkelahian menuju kematian pun harus dilakukan di darat, tidak di laut.

Kalaulah boleh kita menduga, di samping akal sehat dan berbagai kearifan lokal lainnya, modal apa lagi yang dipunyai oleh masyarakat Lancok dalam hal pengungsi Rohingya? Seperti halnya masyarakat Aceh lainnya, mereka punya dua gugus reportoar-persedian.

Pertama, pengalaman sosial masa konflik yang menjadi sebuah “memori publik” tentang apa arti mengungsi dan apa arti “nyawa” dalam suasana kekerasan. Residu itulah yang kembali menyentuh kemanusian nelayan dan masyarakat dan menjadikannya sebagai energi untuk mengambil resiko apapun untuk menyelamatkan pengungsi Rohingya.

Yang kedua adalah cerita dari ayunan sampán ke liang lahat masyarakat Aceh yang terus menerus diulang dalam berbagai kesempatan tentang asbabun nuzul agama Islam sebagai “agama pengungsi”.

Jangan pernah berlagak mengajari tentang persekusi kepada mayoritas masyarakat Aceh, karena mereka tahu benar tentang bagaimana persekusi kaum Jahiliyah Qurasy kepada Baginda Rasul, sehingga beliau harus hijarah ke Madinah dengan para sahabatnya. Selanjutnya juga mereka tak pernah lupa dengan persekusi yang pernah mereka rasakan ketika konflik Aceh.

Anehnya para nelayan dan masyarakat Lancok itu tidak mengerti konvensi Internasional tentang pengungsi, tidak mengerti tentang IOM dan UNHCR, dan bahkan tidak tahu tentang Hak Asasi Manusia.

Berbeda dengan pembuat kebijakan luar negari negara-negara ASEAN, para nelayan tidak kuliah di Oxford, Harvard dan Universitas terkenal lainnya di dunia. Mereka akan terkejut kalau seandainya Immanuel Kant, Hannah Arendt, Martin Heideger dan kawan-kawannya yang lain hidup lagi barang sejenak, mereka semua akan ke Lancok, mengunjungi mereka, melihat bagaimana orang “tak sekolah” itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh mereka yang sekolah.

Kant, Heideger, dan Arrendt juga pasti akan heran mengapa para pembuat kebijakan yang menghabiskan tahun-tahunnya di pustaka membaca dan belajar berjilid-jilid buku mereka, berdebat dengan para profesor, dan menulis paper, thesis, dan disertasi yang seringkali butuh waktu bertahun-tahun menjadi bebal.

Para orang terpelajar itu juga sampai hati membiarkan anak-anak, wanita, dan para lelaki tua terkatung-katung di laut, tidak boleh ke darat, yang semuanya akan mati secara cepat ataupun perlahan, dan akhirnya hanya akan menjadi statitik kematian pengungsi internasional dan makanan ikan.

Tahun-tahun terakhir ini dunia mencatat pertumbuhan jumlah penduduk yang harus meninggalkan tempat tinggalnya cukup banyak. Sebuah perhitungan yang dibuat oleh NGO World Vison (2020) memperkirakan jumlah manusia yang harus meninggalkan kampung halamannya–umumnya karena perang dan kekerasan–mencapai hampir 80 juta jiwa, dan tidak kurang 30 juta di antara berstatus sebagai pengungsi di negara lain, bukan di negara mereka sendiri.

Apa yang membuat pengungsi Rohingya menjadi berbeda dengan pengungsi Timur Tengah dan Afrika yang hendak menyeberang ke Eropa adalah muasal mereka mengungsi. Jika pengungsi Timur Tengah dan Afrika lebih banyak mengungsi karena alasan lari perang dan kekerasan akibat perang saudara, bahkan akibat intervensi negara-negara adikuasa, pengungsi Rohingya lari karena terjadi kebijakan pembersihan etnis–poh beuabeh, poh bijeh–oleh penguasa Myanmar dan masyarakat Budha fanatik. Yang paling menyakitkan pembersihan etnis itu dilakukan atas supervisi penerima hadiah Nobel perdamaian, Ang Sung Suu Kyi, pensiunan kampiun HAM dan demokrasi Myanmar dan kini menjadi pemimpin bayangan Myanmar.

Tekad dan keberanian masyarakat Lancok yang kemudian diterima oleh pemerintah telah memberikan amunisi baru pemerintah Indonesia dalam politik luar negeri Indonesia.

Di berbagai media nasional dan internasional kini telah diberitakan pemerintah telah menampung pengungsi Rohingya di Lhokseumawe. Tentu saja hal itu bukan masalah dan tak perlu dipermasalahkan, karena bukankah rakyat dan negara Indonesia itu satu. Cuma satu hal yang mesti dicatat, kejadian pengungsi Rohingya di Lancok telah memberi “image internasional” yang lumayan terhadap pemerintah Indonesia.

Wajar sekali kalau pemerintah kita menggunakan kejadian itu sebagai salah satu elemen “soft power” negara dalam pergaulan internasional. Lagi-lagi masyarakat Lancok telah mengerjakan apa yang digagas oleh ilmuwan Harvard dan diplomat kawakan Amerika Sertikat tentang image dan kekuatan persuasif sebuah negara dalam pergaulan internasional dalam berbagai hal, termasuk yang berurusan dengan isu kemanusiaan. Mereka tidak membaca buku Soft Power nya Joseph Nye , tetapi apa yang mereka lakukan kemudian menjadi instrumen pencitraan Indonesia di mata internasional.

Ketika para nelayan Lancok, Syamtalira Bayu, memutuskan untuk “tidak mendengar” anjuran pemerintah untuk tidak menerima pengungsi Rohingya itu, sesungguhnya mereka hanya ingin memastikan bahwa ”janji” ayah Marwan kepada anaknya akan terbukti, paling kurang di Tanah Malikussaleh.

Diam-diam masyarakat nelayan Lancok telah membaca novel Prayer of the Sea secera imaginer. Berbahagialah mereka-para nelayan Lancok–yang masih punya hati, mampu mengajar kita, mampu mengajar pemimpin negeri ini, dan mampu mengajar dunia, tentang apa artinya hati dan kemanusiaan.

Ketika saya hampir siap menulis tulisan ini, saya mendapat WA dari seorang teman pekerja kemanusian internasional dan pernah tinggal di Aceh pada masa konflik dan juga Tsunami.

Dia menyatakan sangat terharu dan bangga dengan masyarakat yang pernah dia layani mengambil sikap berani menerima pengungsi Rohingya tanpa restu pemerintah. Dia mengatakan kepada saya, seharusnya itu mesti dibuat film untuk melawan arus besar internasional yang saat ini anti pengungsi di Eropah, Australia, dan bahkan Amerika Serikat. Dia mengatakan “biar dunia belajar dari Aceh”.

Saya tidak berkomentar panjang, hanya mengatakan setuju, “ok”. Dia kemudian terus berbicara dan akhirnya menanyakan saya, kalau dibuat film judulnya apa. Saya berpikir sejenak, lalu saya mengusulkan.

Judul filmnya “From Lancok With Love”, dan dia tertawa terbahak-bahak. Dia mengatakan lagi, bukankah itu mirip dengan judul film 007 James Bond tahun enampuluhan “From Rusia With Love” dari novelnya Ian Flemming.

Saya mengatakan tidak apa-apa, yang penting ini bukan plagiasi. Dia bertanya lagi, kalau jadi film itu dibuat siapa bintangnya dan siapa penyanyi latarnya seperti Sean Connery dan Matt Monroe nya “From Russia with Love”.

Saya sebutkan di Lancok itu ada bintangnya sekaligus bisa merangkap menjadi penyanyi latar.

Siapa namanya? tanya teman itu.

Namanya Hamdani Yakob jawab saya.

“Siapa?” dia tanya teman itu lagi.

Dia orang yang dituakan para nelayan di kawasan itu.

Saya katakan dia pula yang mengatakan, “Kalau pemerintah tidak mampu, biar kami saja “. Saya diam dan teman NGO diam, agak lama.

“Baik,” katanya.

“Kalau saya ke Aceh nanti kita ke Lancok dan bertemu Hamdani,” tukasnya.

Ahmad Humam Hamid
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala