Menko Airlangga Beberkan Strategi Pemerintah Mencegah Resesi

Perekonomian Indonesia dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS), tumbuh minus 5,32 persen pada kuartal I 2020. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia juga tumbuh minus 4,19 persen dibandingkan kuartal I lalu.


Kondisi ini sudah diprediksi sebelumnya karena merupakan imbas dari pandemik Covid-19 yang tak hanya menekan perekonomian nasional, tapi juga global.

Menteri Koordinator Perekonomian yang juga Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah bakal menempuh sejumlah strategi agar perekonomian tumbuh positif pada triwulan III dan IV.

Dijelaskannya, strategi utama dalam mempercepat pemulihan ekonomi adalah melalui peningkatan belanja pemerintah. Yakni, optimalisasi belanja yang dilakukan dengan implementasi program PEN, dan peningkatan daya beli masyarakat, serta dukungan di sektor yang diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi pada triwulan III dan IV.

"Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, termasuk BUMN, harus berpartisipasi," kata Airlangga seperti dilansir Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (6/8).

Dikatakan Airlangga, kuartal III tahun ini menjadi penentu perekonomian Indonesia memasuki resesi ataukah tidak. Apabila pertumbuhan pada Juli, Agustus, dan September kembali minus, secara otomatis perekonomian masuk jurang resesi.

"Pemerintah juga membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan PEN untuk meningkatkan koordinasi, sehingga perencanaan dan eksekusi dari kedua target yaitu kesehatan dan ekonomi, dapat berjalan beriringan atau tercapai sekaligus," ujarnya.

Menurutnya, program penanganan wabah yang serius dan terstruktur akan memulihkan kepercayaan masyarakat dan rumah tangga untuk melakukan aktivitas konsumsi ataupun investasi.

"Adapun daya beli masyarakat akan dijaga dengan bantuan sosial dan subsidi. Dunia usaha akan dibanjiri beragam insentif agar permintaan domestik terjaga," katanya.

Selain itu, lanjutnya, penanganan aspek kesehatan yang dimaksud meliputi peningkatan pengujian dan pelacakan penyebaran Covid-19, penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin, serta pengadaan obat.

"Hal yang tak kalah penting adalah persiapan produksi dan distribusi vaksin dalam kurun waktu satu tahun ke depan," pungkasnya.

Sementara itu, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Arif Budimanta mengatakan, dampak yang dialami Indonesia masih lebih baik ketimbang negara-negara mitra dagang utama Indonesia.

Misalnya, Singapura yang ekonominya tumbuh minus 12,6 persen dan Jepang yang diprediksi kontraksinya sampai 10 persen.

"Ini namanya transisi baik dari sisi pasokan dan permintaan. Dibandingkan dengan negara mitra dagang utama itu, seperti Korea Selatan, kita masih relatif walaupun terkontraksi relatif lebih minimum dibandingkan yang dihadapi negara mitra dagang utama," kata Arif.